Company Logo


TERJEMAHAN

Indonesian Arabic English French German

PENGUNJUNG

127807
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Kemarin
Bulan Ini
Bulan Kemarin
Total
107
222
1447
125136
107
8338
127807
Your IP: 54.196.225.45
Server Time: 2014-11-01 11:02:19
Visitors Counter

Burung Maleo

Lokasi: Kabupaten Donggala dan Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah - indonesia

 

 BURUNG MALEO

Si Cantik Maskot Daerah

 

Burung Maleo adalah burung endemik (hanya hidup secara alami di suatu kawasan) di Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Donggala (Desa Pakuli dan sekitarnya) dan Kabupatren Luwuk Banggai, Sulawesi Sulawesi Tengah.

Nama ilmiah Burung Maleo adalah Macrocephalon yang berarti kepala besar. Burung Maleo memiliki tonjolan besar di atas kepala. Dan karena tonjolannya itu Maleo bisa mendeteksi panas bumi untuk menetaskan telurnya.

Ngomong-ngomong soal telur Burung Maleo, konon setelah burung ini bertelur, ia langsung pingsan! Lucu kan? Mengapa begitu? Karena ternyata Burung Maleo memiliki telur yang besar, kira-kira 5 kali lebih besar dari telur ayam kampung. Bisakah kamu bayangkan, betapa besarnya telur burung ini?

Jumlah Burung Maleo sekarang ini diperkirakan kurang dari 10 ribu ekor. Dan akhirnya satwa ini dinyatakan sebagai satwa yang dilindungi karena para pemburu liar sering sekali mengambil telur-telur Maleo seenaknya.

Sejak tahun 1990 berdasarkan SK. No. Kep. 188.44/1067/RO/BKLH tanggal 24 Pebruari 1990 “Maleo” ditetapkan sebagai “Satwa Maskot” daerah Sulawesi Tengah. Ini merupakan kebanggaan bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia pada umumnya.

Salah satu tempat penangkaran Burung Maleo berada di Desa Pakuli yang terletak diantara aliran Sungai Gumbasa dan berada di sekitar kawasan hutan Taman Nasional Lore Lindu yang juga memiliki penangkaran Maleo. Mereka membuat sebuah penangkaran telur Maleo yang sesuai habitatnya untuk mengembang biakkan burung Maleo (yang mirip dengan ayam).

Desa Pakuli menjadi salah satu contoh untuk merawat kearifan lokal yang ada dan melestarikan lindungan tanpa perlu gembar gembor untuk sebuah program nasional. Masyarakat desa ini bekerjasama dengan teman-teman pencinta lingkungan telah melakukan 

sesuatu yang sangat berarti tanpa menunggu uluran pemerintah dan akhirnya banyak pihak yang tertarik untuk membantu pelestarian alam dan memelihara kearifan lokal mereka. Dengan semangat kemandirian, masyarakat desa Pakuli bahkan pernah menolak sebuah program ’penghijauan’ dari pemerintah yang tidak sesuai dengan perencanaan awal. Kearifan lokal membuat mereka mampu untuk menjaga kelestarian alam dan pengetahuan setempat ditengah gerusan modernitas yang seringkali menafikkan pengetahuan masyarakat setempat. Desa ini potensial dikembangkan menjadi salah satu tujuan edukasi lingkungan bagi pelajar tentunya tanpa kehilangan orisinalitasnya. Jika anda menyukai travelling ke wilayah pedesaan, mengapa tak mencoba mengunjungi Desa Pakuli? 

 

 Wisata Satwa Lainnya

Quick Link

     

    



Suport By

Palu Display
Lebo Bamboo

Powered by PaluGate®2012.